Laporan Praktikum Mikrobiologi Mikroskopi & Pembuatan Medium Kultur

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

ACARA 2 & 3

MIKROSKOPI
&
PEMBUATAN MEDIUM KULTUR

 














Disusun Oleh :

Nama                           : Putri Mian Hairani
NPM                            : E1J012014
Judul Acara                  : Mikroskopi & Media Kultur
Hari & tgl Praktikum   : Selasa, 19 Maret 2013 (14.00-16.00 WIB)
Dosen P.                      : Dr. Ir. Hendri Bustamam M.sc
Co-ass                          : Agung Matsetio


Laboratorium Ilmu Hama PenyakitTanaman
FakultasPertanian
Universitas Bengkulu
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar  belakang

Mikroskopi
Salah satu alat yang erat sekali hubungannya dengan praktikum mikrobiologi, khususnya untuk melihat bayangan mikroorganismeyang ukurannya sangat kecil, yakni mikroskop. Ada beberapa jenis mikroskop dan teknik-teknik dasar tertentu yang harus dipelajari oleh praktikan mikrobiologi untuk digunakan dalam laboratorium..     
            Beberapa macam mikroskop cahaya biasa, misalnya: mikroskop pantul cermin, mikroskop lampu listrik, mikroskop medan gelap, mikroskop fase kontras. Sedangkan mikroskop yang mempunyai daya pisah lebih tinggi, misalnya: mikroskop ultraviolet, mikroskop elektron transmisi, dan mikroskop elektron pemayaran (terfokus).     

Medium kultur
Kita tahu bahwa semua makhluk hidup membutuhkan nutrient untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Nutrien merupakan bahan baku yang digunakan untuk membangun komponen-komponen seluler baru dan untuk menghasilkan energy yang cdibutuhkan dalam proses kehidupan sel.
            Untuk membutuhkan dan mengembangbiakkan mikroba diperlukan suatu substrat yang disebut medium. Sedangkan medium itu sendiri sebelum digunakaan harus dalam keadaan steril artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan agar mikroba dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan baik di dalam medium, maka diperlukan syarat tertentu yang diantaranya bahwa didalam medium harus terkandung semua unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroba kemudian susunan makanannya, tekanan osmosis, derajar, keasaman (pH), temperature, sterilisasi.    
Perlu kita ketahui pembuatan media didasarkan pada fungsi, komposisi media, dan konsistensinya sehingga dalam kultur atau media yang dibuat dapat menumbuhkan mikroba dengan baik dan sesuai dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan.
            Yang melatar belakangi praktikum pembuatan media adalah agar praktikan dapat menambah pengetahuan mengenai cara pembuatan medium pertumbuhan mikroba.


1.2    Tujuan Praktikum

Mikroskopi
1.      Mahasiswa dapat membedakan jenis-jenis mikroskop yang sering digunakan dalam kerja laboratorium.
2.      Mahasiswa mampu menyiapkan dan mengoperasikan mikroskop optik cermin maupun listrik sesuai dengan prosedur.

Medium Kultur
1.      Mahasiswa dapat membedakan resep beberapa medium yang berbeda.
2.      Mahasiswa mampu menyiapkan dan membuat medium berdasarkan resep yang ada.
3.      Mahasiswa mampu mensterilkan medium sehingga medium kultur siap pakai.















BAB II
 Tinjauan Pustaka
Mikroskopi
            Mikroskop adalah instrument yang paling banyak digunakan dan paling bermanfaat di laboratorium mikroskopi. Dengan alat ini diperoleh perbesaran sehingga memungkinkan untuk melihat organisme dan struktur yang tak tampak dengan mata telanjang. Mikroskopmemungkinkan perbesaran dalam kisaran luas – dari seratus kali sampai ratusan ribu kali.
            Kedua kategori mikroskop yang ada ialah mikroskop cahaya (atau optis) dan mikroskop electron. Keduanya berbeda dalam prinsip yang mendasari perbesaran. Mikroskop cahaya yang kesemuanya menggunakan system lensa optis, mencakup mikroskop :
1)      Mikroskop medan-terang
2)      Mikroskop medan-gelap
3)      Mikroskop fluoresensi
4)      Mikroskop kontras-fase
            Mikroskop electron menggunakan berkas electron sebagai pengganti gelombang cahaya untuk memperoleh bayangan yang diperbesar. (Gerhadt, P.1980)
Tipe-tipe mikroskopi digunakan untuk penelitian. Untuk prosedur dalam laboratorium mikrobiologi diagnostic, dan untuk tujuan-tujuan khusus lainnya. Setiaptipe terutama berguna untuk pemeriksaan beberapa cirri morfologi khusus, dan dipaparkan sebagai berikut.
1.      Mikroskopi Medan Terang
            Dalam mikroskop medan-terang, daerah yang diamati diterangi dengan benderang sehingga objek yang ditelaah tampak lebih gelap dari latar belakangnya. Perbesaran maksimum 1,000-2,000. Pada waktu pengamatan, bakteri biasanya diwarnai dan menampakkan warna zat pewarnanya. Mikroskopi ini biasanya digunakan untuk bakteri, khamir, kapang, algae, dan protozoa.
2.      Mikroskopi Medan Gelap
            Mikroskopi medan-gelap diperoleh dari macam mikroskop yang sama seperti yang digunakan untuk mikroskopi medan-terang, kecuali bahwa alat itu dilengkapi dengan kondensor medan gelap dan suatu objektif ber-NA rendah. Perbesaran maksimum 1,000-2,000 dan tidak diwarnai  karena bercahaya.
3.      Mikroskopi Fluoresensi
            Mikroskopi fluoresensi digunakan untuk memeriksa specimen yang telah diwarnai denganzat pewarna fluorokom sehingga memungkinkan identifikasi mikroorganisme dengan cepat. Perbesaran maksimum 1,000-2,000 dan cerah serta berwarna sehingga dapat membantu identifikasi mikroorganismenya.
4.      Mikroskopi Kontras Fase
            Mikroskopi kontras fase adalah suatu tipe mikroskopi cahaya yang memungkinkan kontras yang lebih besar antara substansi dengan berbagai ketebalan atau berbagai indek bias. Perbesaran maksimum yaitu 1,000-2,000 dengan specimen derajat kegelapan dan digunakan untuk pemeriksaan struktur selular pada sel hidup mikroorganisme berukuran besar, contohnya khamir, algae, protozoa, dan beberapa bakteri.
5.      Mikroskopi Elektron
            Mikroskopi electron memberikan perbesaran berguna yang jauh lebih besar daripada yang mungkin diperoleh dengan mikroskopi cahaya. Perbesaran maksimum 200.000-400.000 dengan specimen cerah pada layar fluoresen dan digunakan untuk objek kecil, contohnya virus dan struktur ultra sel microbe. (Wilson,M.B.1976)

Medium Kultur
            Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan mempergunakan bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba (Sutedjo,1996).
            Supaya mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu media, maka medium tersebut harus memenuhi syarat-syarat antara lain :
a.       Harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba
b.      Harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan  
  
   kebutuhan mikroba yang ditumbuhkan
c.       Harus mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba
d.      Harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang diinginkan   
    
 dapat tumbuh baik (Sutedjo,1996).
Macam-macam media
            Media dapat digolongkan berdasarkan atas susunan  kimianya, sifat wujudnya dan fungsinya. Penggolongan media berdasarkan susunan kimia :
1.      Media anorganik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan anorganik
2.      Media organik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan organik
3.      Media sintetik (media buatan). Yaitu media yang susunan kimianya diketahui dengan
    
 pasti. Media ini umumnya digunakan untuk mempelajari kebutuhan makanan suatu
     
mikroba
4.      Media non sintetik. Yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan
    
 pasti. Media ini umumnya digunakan untuk menumbuhkan dan mempelajari taksonomi
    
 mikroba (Sutedjo,1996).
Penggolongan media berdasarkan sifat wujudnya
1.      Media cair yaitu media yang berbentuk cair
2.      Media padat. Yaitu media yang berbentuk padat. Media ini dapat berupa bahan organik
     
alamiah, misalnya yang dibuat dari kentang, wortel, dan lain-lain, atau dapat juga berupa
     
bahan anorganik misalnya silica gel
3.      Media padat yang dapat dicairkan, (semi solid), yaitu yang apabila dalam keadaan panas
     
berbentuk cair, sedangkan dalam keadaan dingin berbentuk padat, misalnya media agar
     
(Sutedjo,1996).
Penggolongan media berdasarkan fungsinya
1.      Media diperkaya. Yaitu media yang ditambahi zat-zat tertentu misalnya serum darah
    
 ekstrak tanaman dan lain sebagainya, sehinggan dapat digunakan untuk menumbuhkan
     
mikroba yang bersifat heterotrof.
2.      Media selektif. Yaitu media yang ditambahi zat kimia tertentu untuk mencegah
     
pertumbuhan mikroba lain (bersifat selektif). Misalnya media yang mengandung Kristal
     
violet pada kadar tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa
     
mempengaruhi pertumbuhan bakteri gram negative.
3.      Media diferensial. Yaitu media yang ditambahi zat kimia (bahan) tertentu yang
    
 menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan
     
tertentu sehingga dapat dibedakan tipe-tipenya. Misalnya media daerah agar dapat
     
digunakan untuk membedakan bakteri homolitik (pemecah darah) dan bakteri non
     
hemolitik.
4.      Media penguji. Yaitu media dengan susunan tertentu yang digunakan untuk pengujian
     
vitamin. Vitamin asam-asam amino, antibiotika dan lain sebagainya.
5.      Media untuk perhitungan jumlah mikroba. Yaitu media spesifik yang digunakan untuk
     
menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan.
6.      Media khusus. Yaitu media untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan
     
kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu (Sutedjo,1996).

Cara pembuatan media
            Garis besar pembuatan media yang tersusun atas beberapa bahan adalah sebagai berikut :
a.       Mencampur bahan-bahan : bahan-bahan yang dilarutkan dalam air suling. Kemudian
     
dipanaskan dalam pemanas air supaya larutannya homogeny.
b.      Menyaring : beberapa jenis media kadang-kadang perlu disaring, dan sebagai
     
penyaringan dapat digunakan kertas saring, kapas atau kain. Untuk media agar atau
     
gelatin penyaringan harus dilakukan dalam keadaan panas.
c.       Menentukan dan mengatur pH : penentuan pH media dapat dilakukan dengan
     
menggunakan kertas pH, pH meter atau dengan komparator blok. Pengaturan pH media
    
 dapat dilakukan dengan penambahan asam atau basa (organik atau anorganik).
d.      Memasukkan media ke dalam tempat tertentu : sebelum disterilakan, media dimasukkan
     
ke dalam tabung reaksi, Erlenmeyer atau wadah lain yang bersih, kemudian dibungkus
     
kertas sampul (kertas perkamen) supaya tidak basah sewaktu disterilkan.
e.       Sterilisasi : pada umumnya sterilisasi media dilakukan dengan uap panas di dalam
     
autoclave, pada suhu 121◦ C selama 15-30 menit (Sutedjo,1996).
Media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan.
            Media biak kompleks. Untuk banyak mikroorganisme bertuntutan tinggi belum dikenal benar bahan-bahan makanan yang diperlukan. Orang membiakkannya dalam larutan biak yang mengandung ekstrak ragi, otolisat ragi, pepton, atau ekstak daging. Untuk beberapa kelompok organisme lazim juga digunakan : rempah-rempah, dekok rumput kering, sari buah prem, sari buah wortel, santan dan untuk cendawan kupofil juga sari perasan tahi kuda. Mengingat biaya, larutan-larutan baik tidak dibentuk dari senyawa-senyawa murni tetapi lebih disukai untuk menggunakan zat-zat kompleks, seperti air didih, melaso, air rendaman jagung atau ekstrak kedelei, yang sebagai produk sisa tersedia dengan harga murah. Media bak seperti ini disebut media bak kompleks. (Schlegel, 1994).
            Media biak padat. Untuk membuat bak padat pada larutan bak cair di tambahkan bahan pemadat yang member konsistensi seperti selai pada larutan air. Hanya untuk keperluan tertentu masih digunakan gelatin, karena sudah mencair pada suhu 26-30C dan banyak mikroorganisme mampu mencairkan gelatin. Kadar ion hydrogen. Diantara semua ion, ion H+ dan OH- adalah ion-ion yang paling mobil ; oleh sebab itu perubahan kadar yang kecil saja sudah menimbulkan pengaruh yang besar. (Schlagel, 1994).
            Karbondioksida, larun bak yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme yang ototrof yang memfikasi CO2 biasanya ditambahi Na- bikarbonat dan diinkubasi dibawah atmosfir yang mengandung CO2 dalam wadah tertutup (Schlagel, 1994).
            Kadar air dan tekanan osmotik. Mikroorganisme menunjukkan perbedaan yang luas dari segi tuntutan keperluan akan kadar air (Schlagel, 1994).
Suhu. Memilih tuntutan mengenai suhhu inkubasi miroorganisme berbeda-beda prilakunya. Aerasi untuk semua mikroorganisme aerob obligat, oksigen merupakan akseptor electron yang sangat penting.
            Biak anaerob. Untuk menumbuhkan jenis bakteri yang anaerob kuat penyingkiran O2 udara merupakan persyaratan yang amat perlu (Schlegel, 1994)
Zat hara yang ditambahkan ke dalam media.
            Untuk pertumbuhan diperlukan zat hara. Berbagai zat hara yang diperlukan adalah :
Nitrogen :
Pada umumnya bakteri tidak dapat langsung menggunakan Nbebas dari udara, sehingga keperluannya diberikan dalam bentuk garam. Nitrogen diperlukan sebagai bahan dasar untuk protein, asam nukleat dan vitamin. Dalam media bahan yang mengandung N ini berupa :
-       NH4Cl –N inorganik
-       NaNO3
-       Pepton –N organik
Karbon :
            Sebagai sumber karbon digunakan bernagai gula, pati, glikogen. Gula yang dipakai berupa 5C,6C, atau disakarida (laktosa, sukrosa, dan maltose). Untuk dapat menggunakan sumber karbon ini bakteri dapat menguraikannua menjadi molekul yang lebih kecil yang kemudian digunakan untuk bahan dasar protein, polisakarida, lipida dan asam nukleat.
Vitamin dan Faktor pertumbuhan :
            Berbagai vitamin yang diperlukan bakteri adalah thiamine, riboflavin, asam nikotinat, asam pantotenas biotin. Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim atau bagian lain dari bahan dasar sel (Hastowo,1992).




           

BAB III
METODE PRAKTIKUM
Mikroskopi
Mikroskop Optik Cermin Pantul
Bahan dan Alat
Bahan  : 1 gulung kertas tissue, 1 lembar lap katun atau flannel, 100 ml alcohol 70%, dan    
             
 1 ml minyak imersi..
 Alat     : 1 buah mikroskop optic cermin pantul, 1 buah preparat mikroorganisme awetan,    
               
3 buah lensa filter (biru, merah, hijau).
Prosedur Kerja
o    Cermin pada mikroskop diarahkan ke sumber cahaya sedemikian rupa sehingga pantulan cahaya tepat jatuh melalui lubang diafragma kondensor.
o    Lensa objektif pada pembesaran yang dikehendaki ditempatkan pada kedudukan seporos dengan lensa okuler, dengan cara memutar revolver.
o    Lensa-lensa diamati dengan cara mengintip pada lensa okuler untuk memastika kebersihan lensa maupun intensitas cahaya yang masuk.
o    Jika terlihat ada kotoran, lensa dibersihkan dahulu dengan hati-hati menggunakan lap lunak yang tidak mudah terlepas bahan seratnya.. Jika intensitas cahaya tidak sesuai dengan pandangan mata, posisi kondensor atau luas lubang diafrgmanya diubah.
o    Preparat atau specimen dipasang diatas meja benda dan objek diletakkan tepat diatas lubang meja benda serta tersorot cahaya dari cermin mikroskop.
o    Tubus diturunkan dengan memutar sekrup pengatur tubus sampai lensa objektif pada kedudukan paling dekat dengan objek, dengan hati-hati agar lensa objektif tidak menabrak preparat.
o    Preparat diamati melalui lensa okuler dan diatur kembali masuknya cahaya ke dalam mikroskop, sehingga diperoleh bidang pemandangan yang cukup terang dan merata, dengan cara mengatur kedudukan kondensor dan lubang diafragma.

 Mikroskop Optik Lampu Listrik
Bahan dan Alat
Bahan  : 1 gulung kertas tissue, 1 lembar lap katun atau flanel, 100 ml alcohol 70%, dan 1 ml
              
minyak imersi.
Alat     : 1 buah mikroskop optic lampu listrik, 1 buah preparat mikroorganisme aweatan,      
               
3 buah lensaa filter (biru, merah, hijau).
Prosedur Kerja
o    Stecker dimasukkan ke sambungan listrik dan lampu dihidupkan dengan menekan kontak on.
o    Lensa objektif pada pembesaran yang dikehendaki ditempatkan pada kedudukan seporos dengan lensa okuler, dengan cara memutar revolver.
o    Lensa-lensa diamati dengan cara mengintip pada lensa okuler untuk memastikan kebersihan lensa maupun intensitas cahaya yang masuk.
o    Jika terlihat ada kotoran, lensa dibersihkan dahulu dengan hati-hati menggunakan lap yang lunak yang tidak mudah terlepas bahaya seratnya. Jika intensitas cahaya tidak sesuai dengan pandangan mata, posisi kondensor atau luas lubang diafragmanya diubah.
o    Preparat atau specimen dipasang di atas meja benda dan objek diletakkan tepat di atas lubang meja benda serta tersorot cahaya dari lampu listrik mikroskop.
o    Meja benda dinaikkan dengan memutar sekrup pengatur sampai objek pada kedudukan yang paling dekat dengan lensa objektif, dengan hati-hati supaya preparat tidak menabrak lensa objektif.
o    Preparat diamati melalui lensa okuler dan diatur kembali masuknya cahaya ke dalam mikroskop, sehingga diperoleh bidang pemandangan yang cukup terang dan merata, dengan cara mengatur kedudukan kondensor dan lubang diafragma.    

Medium Kultur
Pembuatan Medium Potato Dextrose Agar (PDA)
Bahan dan Alat
1)      Bahan  : Kentang 50 g, dextrose 5 g, tepung agar-agar 5 g, aquades 250 ml, 2,5 ml asam asetat 1%, 2,5 ml KOH 1%, 2,5 ml larutan NaCl 1% dan 2,5 ml Na2CO3 0.1 %14.
2)      Alat     : 1 buah gelas piala 1000 ml, penangas, 1 batang pengaduk, 1 buah pisau, 1 lembar kain saring, 1 buah corong 7,5 cm, 1 buah timbangan kapasitas skala 1 gram, 2 buah gelas Erlenmeyer 250 ml, 20 buah tabung reaksi, otoklaf, 1 gelas piala 200 ml, 1 pipet ukur 25 ml, 1 labu Erlenmeyer, 1 buah otoklaf.
Prosedur Kerja
1.        Kentang dikupas dan dicuci lalu dipotong-potong kecil berukuran 0,5 cm3.
2.        Timbang potongan-potongan kentang seberat 50 g, kemudian rebus dengan 250 ml air bersih sampai mendidih.
3.        Ekstrak kentang (air rebusan) dipisahkan dengan kain saring.
4.        Ekstrak dipanaskan kembali, kemudian ditambahkan 5 g dektrose dan 5 g agar-agar sambil diaduk.
5.        Jika volumenya kurang dari 250 ml perlu ditambahkan air lagi sampai volume 250  ml dan teru diaduk sampai agar-agarnya benar-benar homogen.
6.        Medium dimasukkan ke dalam gelas erlenmayer 200 ml atau tabung-tabung reaksi sebanyak 12 ml atau 15 ml kemudian disumbat dengan kapas.
7.        Medium disterilkan dengan menggunakan otoklaf pada suhu 121ÂșC 15 psi selama 20-30 menit.
8.        Setelah sterilisasi, tabung-tabung reaksi yang berisi 5 ml medium kultur diletakkan miring terhadap bidang horizontal dan dibiarkan sampai padat.
9.        Medium disimpan dalam tempat penyimpanan khusus.

Pembuatan Medium Taoge Sucrose Agar (Tsa)
Bahan dan alat
1.        Bahan : taoge (dapat di gantikan sumber nutrient lain) 200 g, agar-agar 20 g, sucrose 15 g, aquades 1.000 ml.
2.        Alat : 1 gelas piala 1000 ml, 1 buah penangas, 1 batang pengaduk, 1 unit timbangan analisa, 1 lembar kain saring, 1 buah corong, 2 buah gelas  erlemeyer 250 ml, 20 buah tabungan reaksi, 200 g kapas, 1 unit otoklaf.
Prosedur kerja
1.        Taoge di rebus sampai mendidih 10 menit dalam 250 ml air bersih, kemudian ekstraknya (kuah) di ambil dengan cara di saring.
2.        Ekstrak di tambah semua bahan di jadikan 250 ml kemudian di didihkan dalam gelas piala sampai homogeny dan volumenya menjadi 240 ml.
3.        Setelah homogen di saring dengan kain saring dan di masukan ke dalam tabung-tabung reaksi, masing-masing 12 ml atau di masukan ke dalam botol erlemeyer masing-masing 200 ml.
4.        Tabung reaksi atau botol erlemeyer yang berisi medium kultur di sumbat dengan kapas dan di bungkus dengan kertas.
5.        Medium di setrilkan menggunakan otoklaf pada suhu 121 C 15 pasi sela 20-30 menit.
6.        Setelah sterilisasi, medium di simpan dalam tempat penyimpanan khusus.
BAB IV
Hasil dan Pembahasan

4.1     Hasil Pengamatan
Mikroskopi
NO
GAMBAR MIKROSKOP
CARA MENYIAPKAN DAN  CARA MENGOPRASIKAN
1
1.      Cara Menyiapkan :
Mikroskop merupakan peralatan yang berharga yang harus diperlakukan dengan baik. Untuk membawa mikroskop itu pegang tangkainya dengan satu tangan. Letakkan tangan yang satu lagi pada bagian bawah untuk menopangnya. Jangan mengayun atau melambung, atau menggetarkannya sewaktu meletakkan mikroskop itu. Janganlah mencoba mengangkat mikroskop pada tubuh tabungnya. Akan ada bagian dari mikroskop yang terlepas dan jatuh ke lantai bila kalian memegangnya secara demikian.
Kalian tidak akan dapat mengamati dengan baik dan jelas dengan mikroskop yang kotor. Peralatan harus dibersihkan setiap saat akan digunakan. Gunakan kain yang lembut untuk membersihkan bagian logamnya. Akan tetapi harus hati-hati karena debu merupakan musuh lensa yang terbesar. Lensa yang kotor harus dibersihkan dengan kain yang lembut, kapas pengisap atau kertas lensa yang telah dibasahi dengan air bersabun, alkohol, atau lisol. Berikut adalah langkah-langkah menggunakan mikroskop.

2.      cara mengoprasikan :
1. Mikroskop selalu dibawa dengan dua tangan; tangan pertama menumpu bagian dasar/kaki mikroskop sedang tangan yang lain memegang bagian pegangan mikroskop.
2. Dalam keadaan tersimpan, lensa objektif yang memiliki perbesaran lemah dan mikroskop dalam keadaan tegak.
3. Pada saat melihat spesimen, pertama kali gunakan lensa objektif yang memiliki perbesaran lemah, dengan urutan langkah sebagai berikut.
a. Letakkan sediaan pada meja mikroskop tepat pada ujung lensa objektif, dan sambil melihat dari samping dekatkan lensa objektif ke benda perlahanlahan.
b. Perhatikan bayangan melalui lensa okuler, dan dengan menggunakan pemutar kasar, gerakkan lensa objektif menjauhi atau mendekati objek.
c. Atur posisi bayangan agar terlihat di tengah medan pengamatan.
d. Bila bayangan belum terlihat, ulangilah langkah a dan b.
4. Jika bayangan belum terlihat jelas, jangan menggunakan lensa objektif yang memiliki perbesaran kuat.
5. Pada saat memindahkan lensa objektif dari perbesaran lemah ke perbesaran kuat, harus selalu melihat ke posisi lensa obyektif , supaya tidak terjadi benturan yang tibatiba antara lensa objektif dengan spesimen sehingga menyebabkan kerusakan atau pecahnya spesimen.
6. Jangan mengarahkan cermin ke arah sinar matahari secara langsung, yang memantul ke mata sehingga dapat mengganggu penglihatan.
7. Bersihkan lensa dengan kertas lensa. Beri sedikit air pada kertas lensa sebelum digunakan untuk membersihkan lensa. Beri alkohol pada kertas lensa jika kotoran yang ada pada lensa agak sulit dihilangkan.
8. Hati-hati menggunakan kaca penutup, karena mudah sekali pecah yang dapat melukai tangan apalagi kalau ditekan.

2
1.      Cara Menyiapkan :
pegang tangkainya dengan satu tangan. Letakkan tangan yang satu lagi pada bagian bawah untuk menopangnya. Jangan mengayun atau melambung, atau menggetarkannya sewaktu meletakkan mikroskop itu. Janganlah mencoba mengangkat mikroskop pada tubuh tabungnya. Akan ada bagian dari mikroskop yang terlepas dan jatuh ke lantai bila kalian memegangnya secara demikian.
Kalian tidak akan dapat mengamati dengan baik dan jelas dengan mikroskop yang kotor. Peralatan harus dibersihkan setiap saat akan digunakan. Gunakan kain yang lembut untuk membersihkan bagian logamnya. Akan tetapi harus hati-hati karena debu merupakan musuh lensa yang terbesar. Lensa yang kotor harus dibersihkan dengan kain yang lembut, kapas pengisap atau kertas lensa yang telah dibasahi dengan air bersabun, alkohol, atau lisol. Berikut adalah langkah-langkah menggunakan mikroskop.

2.      Cara Mengoprasikan :

1.      striker di masukan ke sambungan listrik dan lampu di hidupkan dengan menekan kontak on.
2.      Lensa objektif pada pembesaran yang di kehendaki di tempatkan pada ke dudukan seporos dengan lensa okuler, dengan cara memutar revolver.
3.      Lensa-lensa di amati dengan cara mengintip pada lensa okuler untuk memastikan kebersihan lensa maupun intensitas cahaya yang masuk.
4.      Jika terlihat ada kotoran, lensa di bersihkan dahulu dengan hati-hati menggunakan lap lunak yang tidak mudah lepas bahan seratnya,. Jika intesitas cahaya tidak sesuai dengan pandangan mata, posisi kondensor atau luas lubang diafragmanya di ubah.
5.      Preparat atau sepesimen di pasang di atas meja benda dan objek di letakan tepat di atas lubang meja benda serta tersorot cahaya dari lampu listrik mikroskop.
6.      Meja benda di naikan dengan memutar sekrup pengatur sampai objek pada kedudukan paling dekat dengan lensa objektif, dengan hati-hati supaya pereparat tidak menabrak lensa objektif.
7.      Preparat di amati melalui lensa okuler dan di atur kembali masukan cahaya ke dalam mokroskop, sehingga di peroleh bidang pemandangan yang cukup terang dan merata, dengan cara mengatur kedudukan kondensor dan lubang diafragma.


Medium Kultur
No
Nama Medium Kultur dan Kegunaan
Resep
Cara Membuat
1
Potato Dextrose Agar (PDA)
 50 g kentang
 5 g dextrose
 5 g tepung agar-agar
 250 ml aquades
1  1 kapsul antibiotik
         Kentang yang telah dikupas,dicuci dan dipotong-potong kecil hingga berukuran 0,5 cm3.
         Kemudian potongan kentang seberat 50 g ditimbang  dan setelah itu direbus dengan 250 ml air bersih sampai mendidih.
         Lalu, pisahkan ekstrak kentang (air rebusan) dengan kain saring dan ekstrak dipanaskan kembali. Setelah itu tambahkan 5 g dektrose dan 5 g agar-agar sambil diaduk.
         Jika volume kurang dari 250 ml perlu ditambahkan air lagi sampai volume 250 mldan terus diaduk sampai agar-agarnya benar-benar homogen.
        Masukkan medium kedalam gelas Erlenmeyer 200 ml atau tabung reaksi sebanyak 12 ml atau 5 ml kemudian dengan kapas. Setelah itu, sterilkan dengan otoklaf pada suhu 121°C 15 psi selama 20-30 menit.
         Setelah dilakukan sterilisasi, tabung-tabung reaksi yang berisi 5 ml medium kultur diletakkan miring terhadap bidang horizontal dan biarkan sampai padat dan simpanlah medium dalam penyimpanan khusus.
2
Taoge sucrose agar  (Tsa)
Ta  taoge 50 g,
A   agar-agar 5 g,
Sukrosa 1,5 g,
Aquades 250 ml,
1 kapsul anti biotic amoxcilin.

  
         Siapkan pepton 5 g, agar-agar 5 g
         Setelah semua bahan dimasukkan ke dalam gelas piala dan ditambah air bersih sampai volumenya 250 ml dan panaskan sambil diaduk-aduk.
         Setelah semuanya selesai, masukkan medium kedalamgelas Erlenmeyer 200ml atau tabung reaksi sebanyak 12 ml atau 5 ml kemudian disumbat kapas. Setelah itu, sterilkan dengan otoklaf pada suhu 121°C 15 psi selama 20-30 menit.
         Setelah dilakukan sterilisasi, tabung-tabung reaksi yang berisi 5 ml medium kultur diletakkan miring terhadap bidang horizontal dan biarkan sampai padat dan simpanlah medium dalam penyimpanan khusus.


4.2 Pembahasan
Mikroskopi
Mikroskop mempunyai beberapa bagian-bagian tertentu yang memiliki fungsi masing-masing, antara lain :
1.      Bagian optic, Terdiri dari :
o   Lensa objektif : terpasang pada revolver dan berdekatan dengan benda yang diamati .
o   Lensa okuler : terletak pada bagian atas mikroskop yaitu dekat dengan mata.
o   Lensa kondensor : berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke arah benda atau preparat yang akan diamati.
o   Cermin : berfungsi untuk memantulkan cahaya kearah objek yang akan diamati.
2.      Bagaian non-optic, Terdiri dari :
o   Kaki dasar atau basis : berfungsi untuk membuat mikroskop berdiri tegak.
o   Lengan/pilar : berfungsi untuk mengatur kedudukan mikroskop.
o   Meja benda : berfungsi untuk meletakan benda/objek yang akan diamati.
o   Sekrup penggerak sediaan : berfungsi menggerakkan sediaan atau preprat kearah kiri atau kanan.
e.       Sekrup pengatur jarak teropong dengan preparat, untuk mengatur jumlah besar(makrometer) dan jumalah(micrometer).
Medium Kultur
Pada percobaan dengan membuat medium kultur pada medium Potato Dextrose Agar (PDA) dan medium Nutrien Agar (NA) terdapat perbedaan pada resep dari masing-masing medium. Untuk medium PDA digunakan resep yang berupa bahan dengan berbagai ukuran. Bahan resep tersebut antara lain kentang 50 g, dextrose 5 g, tepung agar-agar 5 g, aquades 250 ml, 2,5 ml asam asetat 1%, 2,5 ml KOH 1%, 2,5 ml larutan NaCl 1% dan 2,5 ml Na2CO3 0.1 %.
Setelah semua bahan tersedia, maka selanjutnya melakukan pembuatan medium PDA. Teknik membuat medium PDA ini, yaitu kentang yang telah dikupas,dicuci dan dipotong-potong kecil hingga berukuran 0,5 cm3. Kemudian potongan kentang seberat 50 g ditimbang  dan setelah itu direbus dengan 250 ml air bersih sampai mendidih. Lalu, pisahkan ekstrak kentang (air rebusan) dengan kain saring dan ekstrak dipanaskan kembali. Setelah itu tambahkan 5 g dektrose dan 5 g agar-agar sambil diaduk. Jika volume kurang dari 250 ml perlu ditambahkan air lagi sampai volume 250 ml dan terus diaduk sampai agar-agarnya benar-benar homogen. Masukkan medium kedalam gelas Erlenmeyer 200 ml atau tabung reaksi sebanyak 12 ml atau 5 ml kemudian dengan kapas. Setelah itu, sterilkan dengan otoklaf pada suhu 121°C 15 psi selama 20-30 menit. Setelah dilakukan sterilisasi, tabung-tabung reaksi yang berisi 5 ml medium kultur diletakkan miring terhadap bidang horizontal dan biarkan sampai padat dan simpanlah medium dalam penyimpanan khusus.
Kemudian untuk percobaan pada medium Nutrien Agar (NA), kita menggunakan resep yang berbeda pada pembuatan medium sebelumnya, yaitu medium Potato Dextrose Agar (PDA). Pada pembuatan medium Nutrien Agar (NA) resepnya terdiri dari pepton 5 g, agar-agar 5 g, aquades 250 ml.
Setelah resep yang ada telah terkumpul, maka selnjutnya adalah melakukan proses pembuatan medium Nutrien Agar (NA), yaitu Siapkan pepton 5 g dan agar-agar 5 g. Setelah semua bahan dimasukkan ke dalam gelas piala dan ditambah air bersih sampai volumenya 250 ml dan panaskan sambil diaduk-aduk. Setelah semuanya selesai, masukkan medium kedalam gelas Erlenmeyer 200 ml atau tabung reaksi sebanyak 12 ml atau 5 ml kemudian disumbat kapas. Setelah itu, sterilkan dengan otoklaf pada suhu 121°C 15 psi selama 20-30 menit. Setelah dilakukan sterilisasi, tabung-tabung reaksi yang berisi 5 ml medium kultur diletakkan miring terhadap bidang horizontal dan biarkan sampai padat dan simpanlah medium dalam penyimpanan khusus.
Namun, terdapat kesamaan dalam pembuatan kedua medium ini dari cara pembuatan, yaitu pada saat melakukan medium cairnya. Hanya saja, medium PDA menggunakan agar-agar sedangkan medium Nutrien Agar (NA) tidak menggunakan agar-agar.

BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari hasil percobaan yang telah didapatkan pada teknik pembuatan medium kultur tenteng pembuatan medium Potato Dextrose Agar (PDA) dan medium Nutrien Agar (NA), maka dapat disimpulkan bahwa :
Mikroorganisme dibiakkan di laboratorium dengan menggunakan bahan nutrien.
o   Terdapat banyaknya macam medium yang tersedia  dan  akan ditumbuhkan bergantung
kepada banyak factor.
o   Faktor-faktor tersebut salah satunya ialah macam mikroorganisme yang akan
ditumbuhkan contohnya pada pembuatan medium PDA dan NA.
o   Pada Nutrien Agar, kita dapat menginokulasi medium yang disebut inokulum sehingga
sel-sel akan terpisah sendiri-sendiri.
            Media yang dibuat harus disesuaikan dengan karakteristik dari jenis mikroba yang akan ditumbuhkan. Aspek lingkungan seperti suhu, pH, kecukupan nutrien media dan kontaminasi perlu dikondisikan dengan sebaik-baiknya agar mikroba yang ditumbuhkan dengan baik.
            Media merupakan bahan yang terdiri atas campuran nutrisi, yang digunakan sebagai tempat menumbuhkan mikroba. Pada proses pengenceran di gunakan peptone untuk membuat medium cair, sedangkan untuk media cawan agar menggunakan PCA dan PDA.
            Diharapkan dapat menjaga kondisi aseptis lingkungan serta perlengkapan dalam pembuatan media agar dapat menghasilkan mikroba yang diinginkan.
Sebaiknya praktikan menggunakan alat-alat praktikum yang steril dan juga bekerja aseptik dalam pembuatan media sehingga mendapatkan media yang baik untuk digunakan pada percobaan selanjutnya.


          Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
o  Mikroskop adalah alat optic untuk mengamati benda-benda yang sangat kecil(renik) yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
o  Benda yang diamati mengalami perbesaran sebanyak dua kali.
o  Mikroskop terdiri dari dua bagain yaitu bagian optic(lensa kondensor, lensa objektif, dan lensa okuler) dan bagain non-optic(kaki dan lengan mikroskop, diafragma, meja objek, penjepit kaca objek, dan sumber cahaya.).




DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Pembuatan Media Biakan. Available at   http://wahyuaskari.wordpress.com/umum/pembuatan-media-biakan/ (diakses tanggal 26 Februari 2011)
Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan 1. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi.       Fateta IPB, Bogor
Halim,J . 2002. Alat Pratikum Histologi. EGC : Jakarta.
Pelczar, Michael.J dan E.C.S.Chan, 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1 unuk Perguruan Tinggi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Purnomo, Bambang, 2011. Penuntun Praktikum Mikrobiologi. Fakultas Pertanian UNIB. Bengkulu.
Purwanto,Budi. 2006. Semesta Fenomena Fisika 2. Platinum : Jogjakarta
Sudarno. 1994. Ringkasan Biologi. Ganeca Excat : Bandung
Volk , W. A & Wheeler. M. F. 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi ke 5. Erlangga, Jakarta.
Waluyo, L.2005. Mikrobiologi Umum.cet. kedua. UMM Press. Malang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar